Mari bicara soal social media.
Saya lagi capek dengan Facebook dan Twitter.
Perkembangan kedua jejaring sosial ini, bersama teman-temannya, sudah tidak terbendung. Semua orang punya account dan berbagi informasi apapun yang dia punya. Kita, sang audience, menjadi korbannya. Kita sibuk mencari relevansi. Coba buka timeline Twitter. Dari seratus tweet, dari berapa orangkah yang benar-benar kamu kenal? Berapa tweet yang informasinya bermanfaat?
Ngomong-ngomong masalah manfaat, kita bisa berpikir seperti ini: bukannya bisa dibuat bermanfaat? Pilih saja account yang bagus buat di-follow? Lagipula sekarang setiap provider ini sudah semakin memperhatikan aspek ini. Google+ sudah memperkenalkan konsep circle-nya. Diaspora punya aspects (yang mana sepertinya ditiru oleh Google+). Sekarang di Facebook juga bisa share ke orang-orang tertentu. Permasalahan sudah ditangkap dan masing-masing sudah memiliki konsep sendiri untuk menyelesaikannya.
Konsep memang bagus dan selalu enak untuk dibicarakan. Namun operasional selalu punya dengan hal-hal yang tidak sesuai konsep. Saya melihat ini di perusahaan dan tempat saya bekerja. Dari situ saya seperti melihat hal yang sama di social media. Misalnya banyak orang balas-balasan mention di Twitter padahal itu bisa dilakukan via DM (informasi personal untuk public)! Atau misalnya nama kita di-tag foto barang-barang jualan di Facebook. Saya rasa mention dan tag bukan dibuat untuk itu, tapi akhirnya dipakai untuk hal yang lain yang bisa bermanfaat, bisa tidak, tapi menyimpang dari konsep. Konsep bagus akan terimplementasi dengan bagus kalau dijalankan secara benar. Misalnya konsep circles memang ok, tapi kalau user selalu post semua postingan-nya public, ya sama aja.
Biasanya kita merelevansikan istilah sistem informasi dengan sistem yang ada di dunia enterprise. Tapi menurut saya social media juga sistem informasi. Namun bedanya dengan yang pertama, di dunia enterprise, user-nya harus sudah terlatih untuk melakukan sesuatu yang benar. Kalau salah, pekerjaan jadi resiko. Kontrol yang sama tidak ada di social media. Semua orang bisa melakukan apapun yang mereka inginkan.
Kadang hal di atas mengganggu saya sekarang, sehingga jadi malas mengakses semua social media. Ada satu hal lagi yang lebih mengganggu sebenarnya.
Pernahkah nggak ngerasa kalau dunia kita sekarang menjadi less social? Semua orang sibuk dengan dirinya dan dunianya sendiri.
Beberapa hari lalu saya switch Blackberry Onyx 2 saya dengan versi lebih kuno punya Ibu saya, Bold 9000. Smartphone ini udah berusia tiga tahun lebih. Memorinya sangat kecil hingga sulit untuk punya aplikasi. Operating system-nya sudah mentok di 4.6. Saya nggak bisa (dan tidak tertarik) untuk eksplorasi lebih jauh.
Demi mempertahankan delivery dari basic function sebuah handphone – telpon dan SMS selama setidaknya sehari - saya matikan segala fasilitas ekstra seperti email, Facebook, Twitter, dan segala rupa messenger. Meninggalkan Blackberry Messenger yang tersohor itu untuk tetap bisa kontak dengan orang-orang terdekat.
Untuk orang gila gadget kayak saya, itu bisa dihitung sebagai sebuah kemunduran. Tapi di situlah seninya. Ujung-ujungnya saya malah merasa dapat manfaat. Hidup lebih tenang dan fokus kembali tergali.
Kalau dipikir-pikir, social media itu menyakitkan. Dengan melihat orang lain, kita otomatis membuat komparasi diri kita dengan orang lain. Sometimes, saya bakal merasa begitu menyedihkan, karena teman-teman sudah sampai mana, sementara saya masih di mana. Sesuatu yang mungkin terjadi di setiap orang, at least saya tahu orang-orang terdekat saya kadang merasa begitu, meski menurut saya hidup mereka sudah sempurna. Manusia nggak pernah puas bukan?
Banyaknya informasi juga mendorong kita untuk merasa lebih up to date. Being current, tanpa menjadi current. Hal yang paling current sebenarnya kan apa yang ada di sekitar kita. Tapi kita seringkali menghabiskan waktu untuk melihat semua yang ada di layar telpon dan komputer kita – yang merupakan tulisan setidaknya beberapa waktu sebelum kita. Menyebabkan kita jadi merasa kurang observe dengan keadaan sekitar.
Kembali ke manfaat tadi, kenapa saya menyebut hidup lebih tenang dan fokus?
Setelah lepas dari semua hiruk pikuk social media, tiba-tiba saya punya waktu untuk baca buku yang sudah dibeli berbulan-bulan lalu, melihat kehijauan alam sekitar ketika jalan, dan lebih engage ketika berkomunikasi dengan orang lain.
Rasanya jadi lebih ringan ketika kita tahu kita tidak punya pilihan untuk melihat hiruk pikuk dunia dan fokus ke dunia di sekitar kita yang nyata, di mana semua indera kita bekerja. Ini juga mungkin terkait dengan cognitive switching penalty, yang mana ketika kita berubah fokus dari satu hal ke hal lain, ada degradasi performa yang terjadi sehingga hasil pekerjaan kita tidak optimal. Entah itu kerja betulan, atau bahkan hanya dalam interaksi sosial. Limitasi dari pilihan kita untuk fokus ke hal-hal nyata di sekitar dengan sendirinya mengoptimalkan manfaat yang kita peroleh dari lingkungan kita, yang selama ini kita lupa kalau ternyata itulah yang kita butuhkan.
Jadi, apa pesan dari semua penjelasan panjang ini?
Saya nggak mengajak untuk quit Facebook atau Twitter. Tapi untuk lebih engage dengan dunia nyata di sekitar kita. Saya suka momen-momen basa-basi dengan orang di meja sebelah di kantor, mengenali lebih dalam orang-orang terdekat kita, atau misalnya menanyakan kabar orangtua kita. Mereka mungkin tidak pernah bilang ke kita kalau mereka sangat membutuhkan interaksi sosial dari kita. Terkadang kita sibuk sendiri dengan dunia kita sampai lupa dengan hal-hal nyata yang justru sebenarnya sangat dibutuhkan.
Itu kenapa saya kasih judul Disconnect Yourself. Berhenti dari dunia maya untuk memelihara dunia nyata, dan connect kembali lagi seperlunya untuk sekedar mengambil manfaatnya. Ini mengingatkan saya kembali atas posting lama saya – Smartphone dan Distraction. Ada video yang menarik di dalamnya yang terkait dengan tulisan saya sekarang. Please take a look!
Update
Beberapa artikel menarik yang terkait dengan disconnection dari social media.