Saya baru saja kembali dari Port Dickson, Malaysia, menghadiri sebuah cascade dari kantor. Seperti umumnya di sana ada acara celebration atas kesuksesan tahun lalu dan sosialisasi apa target yang harus dicapai untuk tahun ini.

Buat saya dua hari itu berlalu begitu saja, karena pikiran dan hati tidak ada di sana. Teringat tugas-tugas kuliah yang bertumpuk, planning untuk pulang ke Jakarta, Bandung, dan Pekanbaru minggu-minggu depannya, sampai email-email yang belum terjawab. Pikiran pun makin jauh melayang ketika rekan-rekan kerja bermunculan mendapat award dan segala sanjungan atas kerja kerasnya, sementara saya sibuk berpikir sendiri melihat mereka, apakah ini jalan seperti mereka yang harus kutempuh?

Ketika motivasi dan impian berada di luar sana, kita akan tahu sekeras apapun berusaha di dalam tidak akan lebih jauh membawa diri dari mediokritas. Lantas buat apa tahun-tahun ini berlalu di sini?

Jam makan siang pun datang. Saya duduk sendiri di meja makan, teman saya lagi mengambil makanan. Sejam lagi saya akan kembali ke Singapura.

Kemudian datanglah salah seorang direktur ke meja saya. “Boleh duduk di sini teman?”, ia bertanya. Saya mempersilahkan.

Setelah ia mengambil makan akhirnya kita terlibat sejumlah diskusi. Saya tertarik menanyakan strategi-strategi divisinya di tahun 2012, lanjutan dari presentasi dia di paginya.

“Sudah berapa tahun kamu di sini? Sebelumnya di mana?”

“Tiga setengah, sebelumnya baru menyelesaikan bachelor degree saya”

Dia agak terheran sebentar.

“Menurut saya kamu sudah berpikir dan bertindak jauh di atas umur kamu, dari apa yang saya lihat. Kamu tidak sekedar melakukan tapi kamu juga memikirkannya lebih dahulu. Itu yang saya lihat dari semua interaksi kita selama ini”, ia berkata.

“Memang karena ketika masuk perusahaan ini, saya struggle sedemikian rupa, menyesuaikan diri dengan pola pikir di sini”, lanjut saya. Omongan setengah ngaco, tapi memang itu yang terjadi. Saya lebih banyak berinteraksi dengan orang senior, yang menganggap saya senior juga, entah karena mau mendidik atau memang saya tampak tua.

“Saya lihat Itu sebuah hal yang berbeda. Kamu harus bangga dengan itu”, ia melanjutkan.

“Thanks, mudah-mudahan memang itu yang sebenarnya terjadi”, saya menjawab sambil bercanda.

Dia tertawa kemudian melanjutkan dan mengatakan kalau itu yang dia lihat, tidak tahu apa yang terjadi di belakang. Kita kemudian diskusi lagi. Teman semeja saya datang, dan saya mendengar banyak diskusi menarik.

Sedikit penyejuk yang menumbuhkan semangat. Mungkin saya memang belajar sesuatu di sini. Tahun-tahun sebelumnya tidak berlalu begitu saja.

Semoga motivasi di luar sana tidak akan tetap di tempatnya tahun ini.

Saya sedang menghabiskan waktu membaca buku Stephen R Covey yang terbaru: The 3rd Alternative, dan menemukan paparan mengenai See-Do-Get. Bukan satu hal yang baru, tapi sangat menarik untuk diingat kembali.

See-Do-Get

Apa yang kita lihat (See) akan akan mempengaruhi apa yang akan kita lakukan (Do), dan apa yang kita lakukan akan mempengaruhi membuat kondisi kita di masa akan datang (future reality) dan apa yang akan kita dapatkan (GET). Apa yang kita dapatkan akan mempengaruhi kondisi kita sekarang (current reality).

Hal di atas menjelaskan kenapa paradigma kita terhadap sesuatu sangat penting.

Jika kita percaya akan berhasil, kita akan dipenuhi optimisme dan punya attitude untuk deliver yang terbaik. Kalau kita tidak percaya kita akan berhasil, kita akan dirundung pesimisme sehingga ada perasaan bahwa melakukan yang terbaik pun akan sia-sia, yang akhirnya akan membuat kita tidak mendapatkan hasil yang kita harapkan.

Saya selalu bilang ke orang-orang terdekat, kalau kita berusaha yang terbaik dan belum dapat hasil seperti yang kita harapkan, berarti Tuhan tahu kalau itu tidak baik untuk kita dan sedang mempersiapkan sesuatu untuk kita nantinya. Ikhtiar itu penting. Dan itu akan tetap memberi kita yang terbaik, entah versi kita atau versi terbaik dari Yang Maha Kuasa.

Gambar diambil dari Diving In.

Mari bicara soal social media.

Saya lagi capek dengan Facebook dan Twitter.

Perkembangan kedua jejaring sosial ini, bersama teman-temannya, sudah tidak terbendung. Semua orang punya account dan berbagi informasi apapun yang dia punya. Kita, sang audience, menjadi korbannya. Kita sibuk mencari relevansi. Coba buka timeline Twitter. Dari seratus tweet, dari berapa orangkah yang benar-benar kamu kenal? Berapa tweet yang informasinya bermanfaat?

Ngomong-ngomong masalah manfaat, kita bisa berpikir seperti ini: bukannya bisa dibuat bermanfaat? Pilih saja account yang bagus buat di-follow? Lagipula sekarang setiap provider ini sudah semakin memperhatikan aspek ini. Google+ sudah memperkenalkan konsep circle-nya. Diaspora punya aspects (yang mana sepertinya ditiru oleh Google+). Sekarang di Facebook juga bisa share ke orang-orang tertentu. Permasalahan sudah ditangkap dan masing-masing sudah memiliki konsep sendiri untuk menyelesaikannya.

Konsep memang bagus dan selalu enak untuk dibicarakan. Namun operasional selalu punya dengan hal-hal yang tidak sesuai konsep. Saya melihat ini di perusahaan dan tempat saya bekerja. Dari situ saya seperti melihat hal yang sama di social media. Misalnya banyak orang balas-balasan mention di Twitter padahal itu bisa dilakukan via DM (informasi personal untuk public)! Atau misalnya nama kita di-tag foto barang-barang jualan di Facebook. Saya rasa mention dan tag bukan dibuat untuk itu, tapi akhirnya dipakai untuk hal yang lain yang bisa bermanfaat, bisa tidak, tapi menyimpang dari konsep. Konsep bagus akan terimplementasi dengan bagus kalau dijalankan secara benar. Misalnya konsep circles memang ok, tapi kalau user selalu post semua postingan-nya public, ya sama aja.

Biasanya kita merelevansikan istilah sistem informasi dengan sistem yang ada di dunia enterprise. Tapi menurut saya social media juga sistem informasi. Namun bedanya dengan yang pertama, di dunia enterprise, user-nya harus sudah terlatih untuk melakukan sesuatu yang benar. Kalau salah, pekerjaan jadi resiko. Kontrol yang sama tidak ada di social media. Semua orang bisa melakukan apapun yang mereka inginkan.

Kadang hal di atas mengganggu saya sekarang, sehingga jadi malas mengakses semua social media. Ada satu hal lagi yang lebih mengganggu sebenarnya.

Pernahkah nggak ngerasa kalau dunia kita sekarang menjadi less social? Semua orang sibuk dengan dirinya dan dunianya sendiri.

Beberapa hari lalu saya switch Blackberry Onyx 2 saya dengan versi lebih kuno punya Ibu saya, Bold 9000. Smartphone ini udah berusia tiga tahun lebih. Memorinya sangat kecil hingga sulit untuk punya aplikasi. Operating system-nya sudah mentok di 4.6. Saya nggak bisa (dan tidak tertarik) untuk eksplorasi lebih jauh.

Demi mempertahankan delivery dari basic function sebuah handphone – telpon dan SMS selama setidaknya sehari - saya matikan segala fasilitas ekstra seperti email, Facebook, Twitter, dan segala rupa messenger. Meninggalkan Blackberry Messenger yang tersohor itu untuk tetap bisa kontak dengan orang-orang terdekat.

Untuk orang gila gadget kayak saya, itu bisa dihitung sebagai sebuah kemunduran. Tapi di situlah seninya. Ujung-ujungnya saya malah merasa dapat manfaat. Hidup lebih tenang dan fokus kembali tergali.

Kalau dipikir-pikir, social media itu menyakitkan. Dengan melihat orang lain, kita otomatis membuat komparasi diri kita dengan orang lain. Sometimes, saya bakal merasa begitu menyedihkan, karena teman-teman sudah sampai mana, sementara saya masih di mana. Sesuatu yang mungkin terjadi di setiap orang, at least saya tahu orang-orang terdekat saya kadang merasa begitu, meski menurut saya hidup mereka sudah sempurna. Manusia nggak pernah puas bukan?

Banyaknya informasi juga mendorong kita untuk merasa lebih up to date. Being current, tanpa menjadi current. Hal yang paling current sebenarnya kan apa yang ada di sekitar kita. Tapi kita seringkali menghabiskan waktu untuk melihat semua yang ada di layar telpon dan komputer kita – yang merupakan tulisan setidaknya beberapa waktu sebelum kita. Menyebabkan kita jadi merasa kurang observe dengan keadaan sekitar.

Kembali ke manfaat tadi, kenapa saya menyebut hidup lebih tenang dan fokus?

Setelah lepas dari semua hiruk pikuk social media, tiba-tiba saya punya waktu untuk baca buku yang sudah dibeli berbulan-bulan lalu, melihat kehijauan alam sekitar ketika jalan, dan lebih engage ketika berkomunikasi dengan orang lain.

Rasanya jadi lebih ringan ketika kita tahu kita tidak punya pilihan untuk melihat hiruk pikuk dunia dan fokus ke dunia di sekitar kita yang nyata, di mana semua indera kita bekerja. Ini juga mungkin terkait dengan cognitive switching penalty, yang mana ketika kita berubah fokus dari satu hal ke hal lain, ada degradasi performa yang terjadi sehingga hasil pekerjaan kita tidak optimal. Entah itu kerja betulan, atau bahkan hanya dalam interaksi sosial. Limitasi dari pilihan kita untuk fokus ke hal-hal nyata di sekitar dengan sendirinya mengoptimalkan manfaat yang kita peroleh dari lingkungan kita, yang selama ini kita lupa kalau ternyata itulah yang kita butuhkan.

Jadi, apa pesan dari semua penjelasan panjang ini?

Saya nggak mengajak untuk quit Facebook atau Twitter. Tapi untuk lebih engage dengan dunia nyata di sekitar kita. Saya suka momen-momen basa-basi dengan orang di meja sebelah di kantor, mengenali lebih dalam orang-orang terdekat kita, atau misalnya menanyakan kabar orangtua kita. Mereka mungkin tidak pernah bilang ke kita kalau mereka sangat membutuhkan interaksi sosial dari kita. Terkadang kita sibuk sendiri dengan dunia kita sampai lupa dengan hal-hal nyata yang justru sebenarnya sangat dibutuhkan.

Itu kenapa saya kasih judul Disconnect Yourself. Berhenti dari dunia maya untuk memelihara dunia nyata, dan connect kembali lagi seperlunya untuk sekedar mengambil manfaatnya. Ini mengingatkan saya kembali atas posting lama saya – Smartphone dan Distraction. Ada video yang menarik di dalamnya yang terkait dengan tulisan saya sekarang. Please take a look!

Update

Beberapa artikel menarik yang terkait dengan disconnection dari social media.

Adakah orang yang suka menerima kegagalan?

Kegagalan itu berat, menyakitkan, dan mematahkan semangat yang sudah membumbung. Mengingatkan akan semua kejadian masa lalu yang telah menghantam dan memberikan kesedihan.

Tapi mengapa kita menganggap sesuatu yang terjadi itu sebagai kegagalan? Sesungguhnya kita tidak pernah gagal.

Kita hanya tidak jadi mengambil  sebuah alternatif. Alternatif yang sebelumnya kita usahakan dan ikhtiarkan, tapi itu tidak mendapat ridho dari Yang Maha Kuasa karena belum saatnya, ada orang yang lebih membutuhkan, atau kalau pun itu terjadi, tidak baik untuk kita.

Berhenti untuk memikirkan opsi yang telah lewat itu dan menjalani apa yang telah digariskan karena baik untuk kita, adalah yang seharusnya kita lakukan. Manusia diciptakan untuk menolong orang lain, saling memberi manfaat dan kebahagiaan.

Hari ini menjadi hari baru karena kita telah melepaskan satu alternatif, dan melihat alternatif lainnya untuk mengisi dunia. Jalan telah dipilihkan. Menerima dengan keikhlasan dan tanggung jawablah yang dibutuhkan. Kontribusi dengan suka citalah yang diharapkan.

Hari ini hari baru, dan kan menjadi hari yang indah.

Tulisan ini dibuat untuk my dearest Nela Fitria yang sedang berada di Jakarta. Tetap semangat ya Sayang ;)

My workplace - Mapletree Business City

One year and three months back, I made a not-according-to-plan decision. Moving to Singapore. It was some kind of good and bad decision. Anyway, everything always have these two sides of coin, right?

Well, most of my time spent here is for working If you are wondering how working in Singapore does look like, in perspective of Indonesian workers, here are some that I have in mind now.

Diverse Culture - You will find Chinese, Indian, Pilipino, Malays, and of course Caucasian. All of them will have different accent, approach, ways of working, everything! It is difficult and also challenging. If you came from the same culture, at least from the way you speak, you can identify what is the meaning. But here, you have to understand many different ways of saying things and approaching everything to work.

Better Work Life Balance – It is true. Not that here people doesn’t work hard, but you will find more time saving because of the transportation service and people here are work more effectively.

The Feel of Rushing - Less time due to work and life balance but more demand on delivering. You know the result, right? Time flows pretty fast here. The days passed very quick and suddenly you feel yourself haven’t done much for today. Later on, what we might learn from is how to make use of time better than before. And one more to add.. your life somehow feels like always spent running and chasing. Chasing the MRT door before it is getting closed is one of the example.

Bigger Opportunities - So you will found much more wide range of opportunities here. Although the country is small, many big companies are setting their head office here. And you always have the opportunity to build a new one. There are a lot of funding available here.

Tax? - This one is surprising, you will pay only a year and the amount is nothing compared to the one that you have in Indonesia, well, if you are paying it.

Robotic + Boring? - Wake up, go to office, lunch, continue to work, go home, take a sleep, wake up, go to office, lunch, continue to work, go home, take a sleep, wake up, go to office, … (repeat until Saturday) , weekend, don’t know what to do since everywhere interesting has been visited (and actually not really that interesting), go to sleep, wake up, go to office, and so on. The bottom line is, everything is managed very well, so you will hardly find something surprising.

I want to write much more but it seems like I am not doing my time effectively (see?). I think it is best to close it now.

So, are you interested to come in?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 360 pengikut lainnya.