Sisi Anak Kecil
Saya teringat akan sebuah iklan Nokia ketika baru-baru populer. Seorang pria memainkan game Snake di telponnya ke mana pun dia berada. Pesan dari sang iklan adalah bahwa tidak ada yang salah dengan itu. Kita semua punya sisi anak kecil. Kita senang bermain.
Seperti orang bilang, men never truly grow up — their toys just get more expensive. Well, it’s true. Saya pun begitu. Seorang pria dewasa yang sudah menginjak 26 tahun, tapi tetap seperti anak kecil.
Kemarin, saya pergi dengan seorang teman ke Chinatown, hanya untuk membeli Android Collectibles. Saya beli tiga: biru, hijau transparan, dan hitam dengan corak developer. Keesokan harnya, hari ini, saya menghabiskan banyak waktu untuk re-build mainan Lego Technic pemberian kekasih dan menyelesaikan beberapa turnamen FIFA 11 di kamar. Serasa tidak ada bedanya dengan saya lima belas tahun lalu, sewaktu hidup di Pekanbaru, belanja ke HOYA untuk membeli Tamiya dan menghabiskan waktu di rumah bermain Sonic the Hedgehog di Sega.
By the way, bisa dilihat di bawah hasil kerjaan mainan saya weekend ini:
Bicara tentang anak kecil, satu hal yang bisa kita ingat adalah kemampuannya untuk bermimpi. Anak kecil punya fantasi. Mimpi tentang apa yang bisa mereka lakukan. Kadang mimpi itu begitu liar sampai tidak pernah bisa dibayangkan oleh orang dewasa. Saya ingat dulu pernah ingin jadi pemain bulu tangkis, tapi keinginan itu saya gagalkan beberapa tahun kemudian karena saya tidak bisa bermain dengan baik.
Padahal sebenarnya kebebasan bermimpi seperti anak kecil itulah sebenarnya yang bisa menggerakkan kita. Dan hal-hal yang besar dan unik di dunia ini, semuanya berawal dari mimpi. Mungkin kalau sejak SD saya latihan bulu tangkis dua jam sehari kemudian berani beralih ke sana, saya sudah jadi orang yang berbeda sekarang.
Setiap orang pasti punya impian terliar di dalam dirinya yang tidak pernah berani diwujudkan. Dan mimpi itu semakin lama semakin dilupakan hingga akhirnya sirna. Dan itu muncul karena seiring bertambahnya umur, kita semakin belajar dari kenyataan, yang mana tidak selalu bagus sebagai referensi.
Saya jadi teringat quote dari Benjamin Franklin,
Most people die from neck up because they stop dreaming
Mari kita coba kembali menyentuh sisi anak kecil dari kita. Untuk bermain di kenyataan, sebagaimana kita bermain dalam dunia mimpi kita sewaktu kecil. Lakukan apa yang kita suka. Karena kita adalah pemilik dari hidup kita sendiri.
