Hanya Sebuah Lagu
Apa yang Anda pikirkan ketika mendengarkan lagu kebangsaan dan mengheningkan cipta?
Minggu lalu, saya kembali ke Jakarta untuk menghadiri acara Sumpah Dokter sang kekasih. Di acara tersebut, seperti halnya wisuda dan acara formal lainnya, terdapat sebuah sesi untuk menyanyikan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta.
Karena acara berlangsung sangat rapi dan cukup khidmat, saya terbawa suasana sungguh-sungguh di sesi tersebut, yakni ketika Indonesia Raya dan Syukur dikumandangkan. Saya pun akhirnya mencoba menelaah setiap bait lagu-nya.
Dan di sanalah saya tersadar.
Tersadar bahwa tak ada ekspresi rasa kebangsaan yang lebih besar dari Indonesia Raya. Setiap kata-katanya benar-benar tertuai dengan sempurna menyatakan kecintaan akan tanah air dan semangat untuk bersatu dan membangun. Pun Syukur punya arti yang tak kalah dalam. Banyak pengorbanan yang telah terjadi untuk membuat negara ini ada dan berdaulat, dan saatnya kita untuk mengingat dan menghargai itu semua. Sesaat saya merasa begitu menjadi bagian dengan negeri ini, untuk berada di dalamnya dan bergerak untuk membangunnya.
Ketika ketenggelaman itu berhenti seiring dengan berakhirnya lagu, saya merasa kembali ke dunia nyata dengan penuh sesal.
Lagu itu kini hanya menjadi sebuah lagu. Yang dihafalkan oleh setiap grup paduan suara karena selalu dikumandangkan di upacara. Kata demi kata menghalir dari mulut kita tanpa pernah bermaksud menyampaikannya. Mengekspresikan bahwa mungkin tak banyak, atau hampir tak ada lagi di antara kita yang begitu cintanya dengan negeri ini hinggu punya semangat bersatu membangun sebuah bangsa bernama Indonesia, yang mana di sisi lain menghargai jasa-jasa para pendahulu kita – yang dalam bentuk apapun – telah berusaha membangun negeri ini.
Saya tak ingin memberi contoh, karena begitu membuka halaman berita saja langsung terasa. Tak ada benang merah yang mau dicapai. Setiap orang berjuang untuk hidupnya masing-masing. Mode survival. Pun ketika sebuah keberlanjutan dimulai, ada banyak aksi reinvent the wheel. Yang mana membuat kita kembali melangkah mundur.
Ketika saya mulai berpikir kompleks seperti di atas, rasionalitas kembali datang menghampiri. Ah, memang lagunya bagus saja. Berlebihan untuk begitu memaknai. Jangan-jangan memang dari dulu kita memaknai Indonesia Raya hanya sebagai sebuah lagu saja?
