Hidup Sederhana
Sudah nonton The Company Men? Film itu menceritakan tentang bagaimana para pekerja kerah putih kehilangan hidupnya karena efisiensi perusahaan. Menarik untuk melihat bagaimana orang-orang Amerika kehilangan American Dream-nya sendiri dan kesulitan dalam melanjutkan hidupnya.
Ada banyak yang bisa dipelajari dari film itu. Kita bisa melihat bagaimana situasi post power sindrome dari seseorang yang kehilangan pekerjaannya dan terlalu gengsi untuk beralih ke kerja kasar, kemudian bagaimana perusahaan tidak akan setia dengan pegawainya, tapi ke shareholdernya, dan bagaimana dukungan keluarga penting dalam sebuah kesulitan besar ketika sang suami tidak punya pekerjaan.
Tapi pelajaran yang lain – yang menurut saya paling menarik – adalah bagaimana tokoh utamanya beralih ke hidup sederhana. Bobby Walker seorang high-powered sales executive, mengalami kesulitan dari transisi hidup mewahnya ke gaya hidup sederhana. Sebelumnya dia punya segalanya, mobil Porsche, rumah besar, pekerjaan bagus, plus gaya hidup mewah. Dia member dengan sebuah klub golf premium. Tapi begitu perkerjaannya menghilang, ia tidak sanggup membiayai itu semua. Setelah resisten cukup lama dengan menghabiskan tabungannya untuk gaya hidup mewahnya, ia akhirnya beralih. Beralih ke sebuah kehidupan sederhana yang mana malah membawa keintiman dengan keluarganya. Salah satu momen yang saya suka adalah ketika ia akhirnya bermain basket di garasi dengan anaknya, juga membuatkan rumah pohon – sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Film itu banyak menyadarkan saya bahwa kita punya pilihan untuk hidup sederhana. Boleh dibilang, saya termasuk orang yang boros. Dan sejak diingatkan film tersebut, saya jadi berusaha mengubah gaya hidup. Meninggalkan segala expense yang tidak perlu. Saya tutup mata untuk gadget-gadget baru, mengurangi benda-benda yang tidak penting di kamar, mencoba memasak, dan banyak hal lainnya. Dan dari sanalah saya menjadi tersadar, bahwa apa yang seringkali kita beli karena kita rasa dapat memuaskan kita, hasilnya tidak pernah permanen. Itu hanya jadi kesenangan sesaat, yang selanjutnya akan jadi penyesalan karena menghabiskan tabungan begitu cepat. Justru kepuasan itu muncul ketika kita membuat diri kita menepati janji ke diri sendiri.
Salah satu masalah lain yang membuat seseorang membelanjakan sesuatu yang tidak perlu adalah faktor aktualisasi diri. Kenapa kita membeli mobil mewah, tas mahal, pakaian bermerek, dan bahkan kopi Starbucks? Suka tidak suka, sadar tidak sadar, adalah karena kita mengasosiasikan diri kita dengan produk-produk tersebut untuk menunjukkan jati diri kita. Seperti misalnya, saya beli tas mahal karena saya ingin dilihat bahwa saya adalah kalangan atas, atau saya beli kopi Starbucks karena saya ‘keren’.
Problemnya adalah, ya itu membantu untuk melakukan aktualisasi diri, tapi aktualisasi diri yang sebenarnya juga terjadi ketika kita benar-benar berkontribusi akan sesuatu yang membuktikannya kalau itu benar. Contohnya, seseorang akan melihat Anda menjadi ‘keren’ kalau membeli Starbucks, tapi mungkin itu hanya bertahan sampai kopi itu habis dan ia berinteraksi langsung dan mengenal Anda. Jauh lebih baik kalau Anda memang membuktikan bahwa Anda ‘keren’ dengan pemikiran cemerlang yang Anda punya atau memang misalnya Anda punya banyak prestasi.
Anyway, mungkin contoh di atas agak kurang relevan. Tapi saya rasa point-nya cukup jelas. Pertama, hidup sederhana adalah pilihan yang bijaksana dan tak pernah menjadi alternatif yang jelek. It will save you both: secara finansial dan kepuasan – kalau berhasil mengubah paradigma. Kedua, manusia punya kecenderungan untuk melakukan aktualisasi diri dengan membeli sesuatu yang menunjukkan jati diri kita. Itu tidak salah, jika tidak dilakukan secara berlebihan, dan juga diimbangi dengan kenyataan bahwa jati diri kita memang seperti itu.
So let’s start, untuk belajar hidup sederhana.
Kalo di bukunya Ligwina Hananto soal kelas menengah, boleh aja punya gaya hidup yang ‘enjoy’ begitu, asal di-budget dan prioritas tetap hari esok