Smartphone dan Distraction

Rasanya menarik juga kalau kita bisa mendeklarasikan sebuah hari tanpa smartphone. Kembali ke masa di mana menghubungi (baca: mengganggu) orang lain yang jauh adalah sesuatu yang cukup sulit.

Buat saya, ketiadaan smartphone kadang berupa anugerah. Kita bisa fokus ke apa yang kita lakukan tapi kena distract telpon, SMS, instant messaging, atau apapun. Jadi biasanya kalau saya sudah di kantor, barang ini segera dipinggirkan. Semua karena cost untuk sebuah distraction sangat besar. Bagi saya, konsentrasi itu mahal. Kalau saya mengerjakan sesuatu, butuh waktu sekitar 10-15 menit untuk ‘tune in’: konsentrasi penuh, fokus, dan produktif. Bahaya dari ke-distract terus menerus adalah mengulang-ulang waktu tune in dan semua nggak pernah selesai.

Salah satu petinggi di kantor lama saya di Indonesia pernah berkata, “This thing is a curse” – sambil menunjuk Blackberry-nya. Sebab email masuk dua puluh empat jam dan dia bisa dihubungi kapan saja. Dan berhubung posisinya sudah VP, ekspektasi kerja sangat tinggi dan membutuhkan dedikasi. Jadi Blackberrynya tidak pernah berhenti bunyi dan ia harus segera menjawab.

Image003

Haruskah jadi seperti itu? Pandangan pribadi: tidak. Walau bagaimanapun, smartphone adalah sebuah tool. Yang sebenarnya hanya alat bantu komunikasi. Kalau kita melihatnya sebagai tool, maka kita yang membuatnya terkontrol, bukan kita yang dikontrol.

Belakangan ini, saya mengaplikasikan apa yang disebut Timothy Ferris di bukunya, The 4-Hour Work Week, sebagai “The Art Of Letting Bad Things Happen”, yang mana saya tidak khawatir untuk tidak membalas pesan kalau bukan dari orang yang benar-benar penting. Check email dan segala social network dengan frekuensi yang cukup jarang, dan ignore atau kalau perlu delete informasi yang tidak banyak relevan. Memang akhirnya bad things really happen. Ada beberapa pesan yang suka tidak terbalas atau email penting yang tidak dibaca karena saya cuma di cc. Tapi toh itu tidak membuat saya jadi rugi. Saya bisa fokus untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang penting dan saya sayangi. Itu semua membuat hidup lebih simple, lebih ringan dan lebih jelas.

Mengenai smartphone itu sendiri, saya kini lebih banyak menggunakannya secara intensif di kala senggang. Saat menunggu bis, dalam perjalanan di MRT atau bis, boarding di bandara, atau sebelum tidur adalah waktu terbaik untuk menggunakannya. Apakah benda ini membuat saya lebih efektif? Dalam beberapa hal ya. Say bisa mencatat semua task yang harus dikerjakan hari ini hingga minggu ini which synchronized dengan Gmail dan Outlook, email bisa saya akses dari mana-mana kalau memang diperlukan, dan saya bisa memakai waktu senggang untuk baca berita terkini.

Saya membuatnya menjadi tool yang bisa dipakai di waktu yang tepat dan sehat. Tidak membacanya saat berjalan kaki dan meminimalisir penggunaan ketika bicara dengan orang lain. Barang ini hanya alat bantu kita untuk mencapai sesuatu. Saya tidak mau sampai kita terlalu fokus dengan alat bantu itu sendiri sampai lupa dengan keadaan sekitar.

Terkait dengan ini, ada sebuah video menarik yang di-share seorang teman, yang selalu tersenyum heran waktu jaman-jaman saya begitu attached dengan smartphone saya. Please enjoy it as closure of my post. Lihatlah bahwa orang-orang di sekitar kita dan yang berarti buat kita, lebih penting untuk dapat perhatian.

Picture taken from here.

1 comment

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 360 pengikut lainnya.