Sebuah diskusi terjadi antara saya dengan manajer di kantor minggu kemarin tentang karir. Diskusi ini biasa dilakukan setahun dua kali bersamaan dengan performance review. Kali ini porsinya lebih besar di masalah karir. Saya suka karena pembicaraan mengenai karir selalu menjadi topik yang menarik.

Kebetulan saat ini di kantor sedang ada transformasi besar-besaran di bagian IT. Beberapa role baru akan datang dan sejumlah role lain akan dialihkan ke fungsinya atau di-outsource sehingga perusahaan lebih fokus ke hal-hal yang lebih esensial. Fungsi-fungsi lokal juga akan berkurang banyak karena semua akan dipindah menjadi role global.

Sesuatu yang menarik, karena ada banyak kesempatan baru. Diskusi dengan manajer saya memberi kesempatan untuk tahu lebih jauh mengenai cerita ini. Saat saya tanya lebih detil mengenai role-role baru tersebut, sang boss langsung menjawab kalau beberapa fungsi baru itu masih belum jelas deskripsi pekerjaannya, lokasi di mana, dan objek yang dikerjakan apa.

Setelah menanyakan umur saya berapa, dia langsung menasihati saya seperti di bawah. Sepertinya ia menangkap kalau saya khawatir role baru itu bakal tidak jelas.

” … Twenty six is nothing, man! You still have two or three years keep to try something new. You don’t need to worry about uncertainties from that opportunities. You need to keep looking for what is the best for you …

Yes, I know it very well. In fact, I am looking forward to see what I will do in that new role.

Tapi satu point yang menarik dari ucapannya adalah tentang ‘keep looking’. Ini mengingatkan saya tentang tulisan Rene Suhardono di bukunya “Your Job is Not Your Career”, untuk tidak pernah settle dan tetap mencari tahu hal-hal baru agar kita tahu passion kita apa. Steve Jobs juga menceritakan hal yang sama di pidato legendarisnya di Stanford saat bercerita mengenai connecting the dots.

I somehow apply it. But it is incomplete. If you asked my closest friends, everybody knows that I never settle. Saya nggak pernah puas dengan apa yang saya punya, sampai kadang-kadang saya kelihatan seperti nggak pernah bersyukur. Udah dapat kerja enak, mau pindah ke tempat lain. Udah cukup bekal buat meniti karir, eh mau sekolah lagi. Semua itu terjadi karena ada sebuah tujuan yang ingin saya capai, dan saya masih merangkak ke sana. Entah di jalur yang benar atau tidak. Sekarang saya sudah bekerja selama tiga tahun lebih. Ah, hampir empat tahun mungkin kalau kerja bakti di Sangkuriang Studio waktu bikin Nusantara Online buat diikutin lomba dihitung. Dan selama itu pulalah saya selalu memberatkan diri dengan pertanyaan harus ke mana saya melangkah, dan menjadi apa. Dan kini saya sadar, bahwa meski, berpikir keras mendefinisikan mau ke mana sebaiknya, bagaimana mencapai ke arah sana, semua tidak akan ada artinya kalau kita tidak berani mengambil resiko untuk melakukannya. It sounds very obvious. Tapi bener kok. Kadang orang lupa mengenai hal ini.

Saya jadi teringat satu tahun lalu, ketika saya mengambil resiko berangkat sekolah dan meninggalkan pekerjaan yang sudah nyaman dijalanin selama dua tahun, ngasih early notification empat bulan demi perfect handover, padahal belum dapat beasiswa buat sekolah.

Buat saya itu seperti gunung meletus. Dua tahun menunggu waktu yang tepat dan akhirnya benar-benar melakukannya. Setelah itu hidup terasa lebih hidup. Karena seperti melakukan sebuah movement menuju ke arah yang diinginkan. Tapi, sayangnya semua tidak berjalan sesuai rencana. Tidak ada beasiswa dan total pengeluaran untuk kuliah sudah tidak rasional lagi untuk dihabiskan dari kantong pribadi. Akhirnya saya jadi struggle, mau memutuskan apa yang harus dilakukan. Hingga akhirnya di satu bulan terakhir dan akhirnya ketemu opportunity di Singapore secara ajaib. Mungkin detailnya akan saya ceritakan di postingan lainnya.

Pengalaman itu begitu berarti buat saya karena saya jadi tahu, betapa terbatasnya imajinasi manusia akan rencana hidupnya, apalagi kalau sudah settle. Begitu kita ambil resiko dan membuat diri kita berada di titik kritis, barulah kita tahu ternyata hidup tidak sebegitu terbatasnya. Ada jalan tertentu yang sudah digariskan atau dibantukan untuk kita untuk mencapai sesuatu. Itu semuanya mungkin di luar akal pikiran kita. Dan semuanya tidak akan terjadi kalau kita sit back dan tidak melakukan apa-apa. Pun kalaupun kita sudah melihat sesuatu yang tampaknya akan mengarahkan kita ke sana, ambillah resiko untuk melakukannya. I am not saying to take 100% chance of failure rate to be taken, karena resiko bisa di-manage. You can take it slowly first dan setelah sudah lepas landas lakukan. Hal terpenting dan teresensialnya adalah melakukan. Begitu sudah dilakukan, jalan akan terbuka, dan mungkin tidak sesuai dan apa yang kita bayangkan. Tapi percayalah, bahwa itu akan tetap membawa kita ke tujuan yang lebih baik. Tuhan ada untuk membawa kebaikan ke kita, kok. Bukan keburukan.

Jadi kesimpulannya, great things have yet to come to us. Don’t settle, keep looking, and take the opportunity!

Rasanya menarik juga kalau kita bisa mendeklarasikan sebuah hari tanpa smartphone. Kembali ke masa di mana menghubungi (baca: mengganggu) orang lain yang jauh adalah sesuatu yang cukup sulit.

Buat saya, ketiadaan smartphone kadang berupa anugerah. Kita bisa fokus ke apa yang kita lakukan tapi kena distract telpon, SMS, instant messaging, atau apapun. Jadi biasanya kalau saya sudah di kantor, barang ini segera dipinggirkan. Semua karena cost untuk sebuah distraction sangat besar. Bagi saya, konsentrasi itu mahal. Kalau saya mengerjakan sesuatu, butuh waktu sekitar 10-15 menit untuk ‘tune in’: konsentrasi penuh, fokus, dan produktif. Bahaya dari ke-distract terus menerus adalah mengulang-ulang waktu tune in dan semua nggak pernah selesai.

Salah satu petinggi di kantor lama saya di Indonesia pernah berkata, “This thing is a curse” – sambil menunjuk Blackberry-nya. Sebab email masuk dua puluh empat jam dan dia bisa dihubungi kapan saja. Dan berhubung posisinya sudah VP, ekspektasi kerja sangat tinggi dan membutuhkan dedikasi. Jadi Blackberrynya tidak pernah berhenti bunyi dan ia harus segera menjawab.

Image003

Haruskah jadi seperti itu? Pandangan pribadi: tidak. Walau bagaimanapun, smartphone adalah sebuah tool. Yang sebenarnya hanya alat bantu komunikasi. Kalau kita melihatnya sebagai tool, maka kita yang membuatnya terkontrol, bukan kita yang dikontrol.

Belakangan ini, saya mengaplikasikan apa yang disebut Timothy Ferris di bukunya, The 4-Hour Work Week, sebagai “The Art Of Letting Bad Things Happen”, yang mana saya tidak khawatir untuk tidak membalas pesan kalau bukan dari orang yang benar-benar penting. Check email dan segala social network dengan frekuensi yang cukup jarang, dan ignore atau kalau perlu delete informasi yang tidak banyak relevan. Memang akhirnya bad things really happen. Ada beberapa pesan yang suka tidak terbalas atau email penting yang tidak dibaca karena saya cuma di cc. Tapi toh itu tidak membuat saya jadi rugi. Saya bisa fokus untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang penting dan saya sayangi. Itu semua membuat hidup lebih simple, lebih ringan dan lebih jelas.

Mengenai smartphone itu sendiri, saya kini lebih banyak menggunakannya secara intensif di kala senggang. Saat menunggu bis, dalam perjalanan di MRT atau bis, boarding di bandara, atau sebelum tidur adalah waktu terbaik untuk menggunakannya. Apakah benda ini membuat saya lebih efektif? Dalam beberapa hal ya. Say bisa mencatat semua task yang harus dikerjakan hari ini hingga minggu ini which synchronized dengan Gmail dan Outlook, email bisa saya akses dari mana-mana kalau memang diperlukan, dan saya bisa memakai waktu senggang untuk baca berita terkini.

Saya membuatnya menjadi tool yang bisa dipakai di waktu yang tepat dan sehat. Tidak membacanya saat berjalan kaki dan meminimalisir penggunaan ketika bicara dengan orang lain. Barang ini hanya alat bantu kita untuk mencapai sesuatu. Saya tidak mau sampai kita terlalu fokus dengan alat bantu itu sendiri sampai lupa dengan keadaan sekitar.

Terkait dengan ini, ada sebuah video menarik yang di-share seorang teman, yang selalu tersenyum heran waktu jaman-jaman saya begitu attached dengan smartphone saya. Please enjoy it as closure of my post. Lihatlah bahwa orang-orang di sekitar kita dan yang berarti buat kita, lebih penting untuk dapat perhatian.

Picture taken from here.

Sudah nonton The Company Men? Film itu menceritakan tentang bagaimana para pekerja kerah putih kehilangan hidupnya karena efisiensi perusahaan. Menarik untuk melihat bagaimana orang-orang Amerika kehilangan American Dream-nya sendiri dan kesulitan dalam melanjutkan hidupnya.

Ada banyak yang bisa dipelajari dari film itu. Kita bisa melihat bagaimana situasi post power sindrome dari seseorang yang kehilangan pekerjaannya dan terlalu gengsi untuk beralih ke kerja kasar, kemudian bagaimana perusahaan tidak akan setia dengan pegawainya, tapi ke shareholdernya, dan bagaimana dukungan keluarga penting dalam sebuah kesulitan besar ketika sang suami tidak punya pekerjaan.

Tapi pelajaran yang lain – yang menurut saya paling menarik – adalah bagaimana tokoh utamanya beralih ke hidup sederhana. Bobby Walker seorang high-powered sales executive, mengalami kesulitan dari transisi hidup mewahnya ke gaya hidup sederhana. Sebelumnya dia punya segalanya, mobil Porsche, rumah besar, pekerjaan bagus, plus gaya hidup mewah. Dia member dengan sebuah klub golf premium. Tapi begitu perkerjaannya menghilang, ia tidak sanggup membiayai itu semua. Setelah  resisten cukup lama dengan menghabiskan tabungannya untuk gaya hidup mewahnya, ia akhirnya beralih. Beralih ke sebuah kehidupan sederhana yang mana malah membawa keintiman dengan keluarganya. Salah satu momen yang saya suka adalah ketika ia akhirnya bermain basket di garasi dengan anaknya, juga membuatkan rumah pohon – sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

Image001

Film itu banyak menyadarkan saya bahwa kita punya pilihan untuk hidup sederhana. Boleh dibilang, saya termasuk orang yang boros. Dan sejak diingatkan film tersebut, saya jadi berusaha mengubah gaya hidup. Meninggalkan segala expense yang tidak perlu. Saya tutup mata untuk gadget-gadget baru, mengurangi benda-benda yang tidak penting di kamar, mencoba memasak, dan banyak hal lainnya. Dan dari sanalah saya menjadi tersadar, bahwa apa yang seringkali kita beli karena kita rasa dapat memuaskan kita, hasilnya tidak pernah permanen. Itu hanya jadi kesenangan sesaat, yang selanjutnya akan jadi penyesalan karena menghabiskan tabungan begitu cepat. Justru kepuasan itu muncul ketika kita membuat diri kita menepati janji ke diri sendiri.

Salah satu masalah lain yang membuat seseorang membelanjakan sesuatu yang tidak perlu adalah faktor aktualisasi diri. Kenapa kita membeli mobil mewah, tas mahal, pakaian bermerek, dan bahkan kopi Starbucks? Suka tidak suka, sadar tidak sadar, adalah karena kita mengasosiasikan diri kita dengan produk-produk tersebut untuk menunjukkan jati diri kita. Seperti misalnya, saya beli tas mahal karena saya ingin dilihat bahwa saya adalah kalangan atas, atau saya beli kopi Starbucks karena saya ‘keren’.

Problemnya adalah, ya itu membantu untuk melakukan aktualisasi diri, tapi aktualisasi diri yang sebenarnya juga terjadi ketika kita benar-benar berkontribusi akan sesuatu yang membuktikannya kalau itu benar. Contohnya, seseorang akan melihat Anda menjadi ‘keren’ kalau membeli Starbucks, tapi mungkin itu hanya bertahan sampai kopi itu habis dan ia berinteraksi langsung dan mengenal Anda. Jauh lebih baik kalau Anda memang membuktikan bahwa Anda ‘keren’ dengan pemikiran cemerlang yang Anda punya atau memang misalnya Anda punya banyak prestasi.

Anyway, mungkin contoh di atas agak kurang relevan. Tapi saya rasa point-nya cukup jelas. Pertama, hidup sederhana adalah pilihan yang bijaksana dan tak pernah menjadi alternatif yang jelek. It will save you both: secara finansial dan kepuasan – kalau berhasil mengubah paradigma. Kedua, manusia punya kecenderungan untuk melakukan aktualisasi diri dengan membeli sesuatu yang menunjukkan jati diri kita. Itu tidak salah, jika tidak dilakukan secara berlebihan, dan juga diimbangi dengan kenyataan bahwa jati diri kita memang seperti itu.

So let’s start, untuk belajar hidup sederhana.

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengarkan lagu kebangsaan dan mengheningkan cipta?

Minggu lalu, saya kembali ke Jakarta untuk menghadiri acara Sumpah Dokter sang kekasih. Di acara tersebut, seperti halnya wisuda dan acara formal lainnya, terdapat sebuah sesi untuk menyanyikan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta.

Karena acara berlangsung sangat rapi dan cukup khidmat, saya terbawa suasana sungguh-sungguh di sesi tersebut, yakni ketika Indonesia Raya dan Syukur dikumandangkan. Saya pun akhirnya mencoba menelaah setiap bait lagu-nya.

Dan di sanalah saya tersadar.

Tersadar bahwa tak ada ekspresi rasa kebangsaan yang lebih besar dari Indonesia Raya. Setiap kata-katanya benar-benar tertuai dengan sempurna menyatakan kecintaan akan tanah air dan semangat untuk bersatu dan membangun. Pun Syukur punya arti yang tak kalah dalam. Banyak pengorbanan yang telah terjadi untuk membuat negara ini ada dan berdaulat, dan saatnya kita untuk mengingat dan menghargai itu semua. Sesaat saya merasa begitu menjadi bagian dengan negeri ini, untuk berada di dalamnya dan bergerak untuk membangunnya.

Image003

Ketika ketenggelaman itu berhenti seiring dengan berakhirnya lagu, saya merasa kembali ke dunia nyata dengan penuh sesal.

Lagu itu kini hanya menjadi sebuah lagu. Yang dihafalkan oleh setiap grup paduan suara karena selalu dikumandangkan di upacara. Kata demi kata menghalir dari mulut kita tanpa pernah bermaksud menyampaikannya. Mengekspresikan bahwa mungkin tak banyak, atau hampir tak ada lagi di antara kita yang begitu cintanya dengan negeri ini hinggu punya semangat bersatu membangun sebuah bangsa bernama Indonesia, yang mana di sisi lain menghargai jasa-jasa para pendahulu kita – yang dalam bentuk apapun – telah berusaha membangun negeri ini.

Saya tak ingin memberi contoh, karena begitu membuka halaman berita saja langsung terasa. Tak ada benang merah yang mau dicapai. Setiap orang berjuang untuk hidupnya masing-masing. Mode survival. Pun ketika sebuah keberlanjutan dimulai, ada banyak aksi reinvent the wheel. Yang mana membuat kita kembali melangkah mundur.

Ketika saya mulai berpikir kompleks seperti di atas, rasionalitas kembali datang menghampiri. Ah, memang lagunya bagus saja. Berlebihan untuk begitu memaknai. Jangan-jangan memang dari dulu kita memaknai Indonesia Raya hanya sebagai sebuah lagu saja?

Saya teringat akan sebuah iklan Nokia ketika baru-baru populer. Seorang pria memainkan game Snake di telponnya ke mana pun dia berada. Pesan dari sang iklan adalah bahwa tidak ada yang salah dengan itu. Kita semua punya sisi anak kecil. Kita senang bermain.

Seperti orang bilang, men never truly grow up — their toys just get more expensive. Well, it’s true. Saya pun begitu. Seorang pria dewasa yang sudah menginjak 26 tahun, tapi tetap seperti anak kecil.

Kemarin, saya pergi dengan seorang teman ke Chinatown, hanya untuk membeli Android Collectibles. Saya beli tiga: biru, hijau transparan, dan hitam dengan corak developer. Keesokan harnya, hari ini, saya menghabiskan banyak waktu untuk re-build mainan Lego Technic pemberian kekasih dan menyelesaikan beberapa turnamen FIFA 11 di kamar. Serasa tidak ada bedanya dengan saya lima belas tahun lalu, sewaktu hidup di Pekanbaru, belanja ke HOYA untuk membeli Tamiya dan menghabiskan waktu di rumah bermain Sonic the Hedgehog di Sega.

By the way, bisa dilihat di bawah hasil kerjaan mainan saya weekend ini:

Img_20110320_203925

Bicara tentang anak kecil, satu hal yang bisa kita ingat adalah kemampuannya untuk bermimpi. Anak kecil punya fantasi. Mimpi tentang apa yang bisa mereka lakukan. Kadang mimpi itu begitu liar sampai tidak pernah bisa dibayangkan oleh orang dewasa. Saya ingat dulu pernah ingin jadi pemain bulu tangkis, tapi keinginan itu saya gagalkan beberapa tahun kemudian karena saya tidak bisa bermain dengan baik.

Padahal sebenarnya kebebasan bermimpi seperti anak kecil itulah sebenarnya yang bisa menggerakkan kita. Dan hal-hal yang besar dan unik di dunia ini, semuanya berawal dari mimpi. Mungkin kalau sejak SD saya latihan bulu tangkis dua jam sehari kemudian berani beralih ke sana, saya sudah jadi orang yang berbeda sekarang.

Setiap orang pasti punya impian terliar di dalam dirinya yang tidak pernah berani diwujudkan. Dan mimpi itu semakin lama semakin dilupakan hingga akhirnya sirna. Dan itu muncul karena seiring bertambahnya umur, kita semakin belajar dari kenyataan, yang mana tidak selalu bagus sebagai referensi.

Saya jadi teringat quote dari Benjamin Franklin,

Most people die from neck up because they stop dreaming

Mari kita coba kembali menyentuh sisi anak kecil dari kita. Untuk bermain di kenyataan, sebagaimana kita bermain dalam dunia mimpi kita sewaktu kecil. Lakukan apa yang kita suka. Karena kita adalah pemilik dari hidup kita sendiri.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 360 pengikut lainnya.